A.
Latar Belakang
Salah
satu ciri menonjol dalam cara kerja pemerintahan modern ialah pemakaian banyak
data statistik dan indikator ekonomi dalam menyusun rencana dan kebijakan
pembangunan. Demikian ucap Emil Salim, Mantan Menteri Negara Pengawasan
Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Manakala segenap aparat statistik sedang
terpusat menghadapi proses reformasi dan perubahan perstatistikan di Indonesia,
pertanyaannya adalah data statistik mana yang dipakai ?
Kalaupun
data BPS terpakai, apakah kita berani menjamin data tersebut berkualitas? Dari sebelum data tersebut jadi data, mulai
metodologi sampai dengan pemeriksaan dan pengawasan adakah jaminan kualitasnya?
Karena bahkan ketika data sudah menjadi data pun tetap ada intervensi dari luar,
angka ramalan produktifitas padi contohnya.
Melihat
kondisi BPS sekarang, sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Gedung kantor BPS
membanggakan, kendaraan untuk KSK sudah semakin baik, SDM meningkat dengan
banyak sarjana di semua lini, one man one
PC dan laptop KSK semakin
meningkatkan kualitas SDM BPS, ada lagi yang kurang? Kesejahteraan juga sudah
lumayan meningkat apalagi dengan adanya
remunerasi di depan mata. Satu lagi yang perlu dilihat adalah output BPS yaitu
data. Apakah sudah berkualitas?
Masalah
utama yang saat ini dihadapi oleh BPS adalah kualitas data. Berulang kali di
berbagai media yang berbeda, data strategis BPS dikritisi, berulangkali pula
tanpa lelah BPS menjelaskan dengan runut dan runtun di berbagai media baik
cetak maupun elektronik. Sampai kapankah data kita akan di sangsikan
kebenarannya. Mengapa data yang dalam proses pelaksanaannya dipersiapkan dengan
seksama tetap menjadi batu ganjalan dalam pemanfaatannya?
Dari
seksi sosial ada deadline sakernas, dari seksi produksi ada ubinan, belum lagi
dari distribusi sudah harus masuk laporan Harga-harga ditambah lagi dengan
adanya pendataan yang bukan rutin seperti PIPA atau PSPK. Mana yang harus
dikerjakan terlebih dahulu? Hal ini wajar sebagai akibat dari adanya berbagai
kegiatan statistik yang saling berkaitan dan sambung menyambung. Tak jarang,
lebih dari satu jenis kegiatan statistik harus diselenggarakan pada waktu yang
hampir bersamaan. Namun, Sebanyak apapun pekerjaan yang dibebankan kepada kita
pasti selesai. Inilah hebatnya aparat BPS
yang bekerja siang dan malam untuk menyelesaikan tugasnya. Namun sekali
lagi kualitas datanya?
Kadang-kadang
ketika sedang terpepet waktu dari pengawas ataupun subjek matter memerintahkan
untuk segera melaporkan pekerjaannya, “Yang penting pekerjaan masuk” demikian
perintahnya. Dan hal inilah yang menjadi senjata bagi petugas untuk tidak
melakukan pendataan sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan hasil pendataan
lambat laun akan turun kualitasnya, dan parahnya menjadi kebiasaan pencacah
disaat tidak kepepet waktu. Bekerja asal-asalan yang penting responden
didatangi dengan wawancara minim dianggap hal yang lumrah. Dengan kata lain
perbuatan yang menyalahi prosedur ini ibarat seorang pencandu rokok. Tahu bahwa
rokok bisa merusak paru-paru namun tetap saja dilakukan. Baru sadar ketika
sakit sudah mengancam jiwanya.
Pengawasan dan
pemeriksaan pendataan seharusnya dilaksanakan dengan sebenar-benarnya sehingga
segala macam kesulitan di lapangan akan terselesaikan dengan cepat tidak
tertunda-tunda. Jadwal pelaksanaan pendataan kalau tidak dipatuhi dari mulai
jajaran pengawas sampai pencacah akan mengakibatkan terbengkalainya pendataan
yang lainnya. Pengawas harus memiliki pemahaman bahwa sebagai pimpinan harus
ahli manajemen, pemberi arah dan bimbingan bukan hanya memberikan petunjuk dan
harus jadi contoh bagi bawahannya.
Hal lainnya
adalah kurangnya komunikasi pengawas atau subjek matter dengan bawahan
mengakibatkan pekerjaan jadi banyak terbengkalai. Waktu penyelesaian suatu
pekerjaan akan lebih lama dan kebersamaan juga akan berkurang.
Akibat lain dari
tidak dipatuhinya jadwal pelaksanaan adalah dokumen hasil survei akan menumpuk
di pemeriksaan dan pengolahan. Akhirnya karena tidak mau menjadi kambing hitam
dari tidak selasainya pendataan tepat waktu maka berbagai “eksekusi”pun
dilakukan agar pengolahan data dapat segera selesai tanpa konfirmasi ulang
dengan pemeriksa dan pencacah. Organisasi tak jauh dari tubuh manusia, satu
tidak berfungsi akan mengakibatkan ketidaksempurnaan. Semua harus menunjukkan
partisipasinya untuk saling mendukung. Satu saja tak berfungsi, maka organisasi
itupun tak sempurna.